Laksanakan Perintah, Jauhi Larangan, Dan Jangan Banyak Bertanya

26 August 2017 10:56 | dibaca 37 kali
Advertisement
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

: : .

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka. [Diriwayatkan oleh al-Bukhri dan Muslim].

Hadits di atas dengan redaksi seperti itu diriwayatkan oleh Muslim dan ath-Thahwi[1] dari riwayat az-Zuhri dan Sad bin al-Musayyib dan Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Hadits di atas juga diriwayatkan dari beberapa jalan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan lafazh:

.

Biarkan aku terhadap apa yang aku tinggalkan pada kalian, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa oleh pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahh. Diriwayatkan oleh imam-imam Ahlul Hadits, di antaranya ialah:
1. Al-Bukhri, no. 7288.
2. Muslim dalam Kitbul-Fadh-il, no. 1337.
3. Mlik dalam al-Muwaththa`, no. 2045, Tahqq dan Takhrj: Syaikh Salim al-Hilali.
4. Asy-Syfii dalam Musnad-nya, no. 24.
5. Ahmad, II/247, 258, 428, 517.
6. Al-Humaidi dalam Musnad-nya, no. 1125.
7. Abdur-Razzq dalam al-Mushannaf, no. 20372.
8. At-Tirmidzi, no. 2679.
9. An-Nas-i, V/110-111.
10. Ibnu Majah, no. 1, 2.
11. Imam Ibnu Hibbn, no. 18-21 dan 2102-2103 -at-Talqtul-Hisn.
12. Abu Yala al-Mushili dalam Musnad-nya, no. 6275.
13. Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah, no. 98, 99.

Dalam riwayat lain disebutkan latar belakang hadits di atas dari riwayat Muhammad bin Ziyd dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami, kemudian beliau bersabda:

. : . . : : . : .

Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah. Seseorang berkata,Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah? Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup, kemudian beliau bersabda,Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah.[2]

Hadits tersebut dari jalur lain diriwayatkan ad-Druquthni, Ibnu Hibbn, dan Ibnu Khuzaimah, di dalamnya disebutkan, Kemudian turunlah firman Allah Taala:



Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian. [al-Midah: 101].

Diriwayatkan dari jalur lain bahwa ayat di atas turun setelah para sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang haji, Apakah haji itu setiap tahun?

Dalam Shahh al-Bukhri dan Shahh Muslim disebutkan hadits dari Anas bin Mlik Radhiyallahu anhu, ia berkata,Rasulullah berkhutbah kepada kami kemudian seseorang bertanya, Siapa ayahku? Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Si Fulan. Setelah itu turunlah ayat di atas.[3]

Dalam Shahh al-Bukhri dan Shahh Muslim juga disebutkan hadits dari Qatdah, dari Anas bin Mlik Radhiyallahu anhu, ia berkata,Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam hingga mereka menekan beliau dalam pertanyaan mereka. Beliau marah kemudian naik mimbar dan bersabda, Pada hari ini, tidaklah kalian menanyakan suatu apa pun kepadaku, melainkan aku akan menjelaskannya, Seseorang yang jika berdebat dengan orang-orang, ia dipanggil dengan nama selain nama ayahnya sendiri lalu berkata, Wahai Rasulullah, siapa ayahku? Nabi bersabda, Ayahmu ialah Hudzafah. Umar bin al-Khaththaab bangkit lalu berkata, Kami ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan berbagai fitnah. Dan Qatdah ketika menyebutkan hadits di atas, ia membaca firman Allah Taala, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian.'[al-M-idah/5:101].[4]

Dalam Shahh al-Bukhri disebutkan juga hadits dari Ibnu Abbs Radhiyallahu anhu, ia berkata, Satu kaum bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan maksud mengejek. Salah seorang dari mereka berkata, Siapa ayahku? Orang yang untanya tersesat berkata, Di mana untaku? Kemudian Allah Taala menurunkan ayat ini, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian. [al-M-idah/5:101].[5]

SYARAH HADITS
1. LARANGAN BANYAK BERTANYA
Hadits-hadits di atas menunjukkan tentang larangan menanyakan hal-hal yang tidak perlu karena jawaban pertanyaan tersebut justru menyusahkan penanya, misalnya pertanyaan penanya apakah ia di neraka atau di surga? Apakah ayahnya bernasabkan kepadanya atau tidak? Hadits-hadits di atas juga menunjukkan larangan bertanya dengan maksud membuat bingung, tidak berguna dan sia-sia, serta mengejek seperti biasa dilakukan orang-orang munafik dan orang-orang selain mereka.

Contoh lain juga ialah menanyakan hal-hal yang disembunyikan Allah Taala terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak memperlihatkannya kepada mereka, seperti pertanyaan tentang waktu terjadinya hari Kiamat, hakikat ruh, dan lain sebagainya.

Hadits-hadits di atas juga melarang kaum Muslimin menanyakan banyak hal tentang halal dan haram karena jawabannya dikhawatirkan menjadi turunnya perintah keras di dalamnya, misalnya bertanya tentang haji, apakah haji wajib setiap tahun atau tidak. Dalam Shahh al-Bukhri disebutkan hadits dari Saad bin Abi Waqqsh bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

.

Sesungguhnya kaum Muslimin yang paling besar dosanya ialah orang yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian sesuatu tersebut diharamkan dengan sebab pertanyaannya itu.[6]

Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang lian (suami-istri saling melaknat dengan sebab tuduhan berzina), (lihat an-Nr/24 ayat 6-9) beliau Shallallahu alaihi wa sallam tidak suka dengan pertanyaan seperti itu hingga penanya mendapatkan musibah karenanya sebelum menjatuhkannya pada istrinya.[7]

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang desas-desus (gossip), banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta.[8]

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam hanya memberi keringanan kepada orang-orang Arab Badui dan orang-orang seperti mereka, misalnya delegasi-delegasi yang menghadap beliau guna mengambil (membujuk) hati mereka. Adapun Sahabat Muhajirin dan Anshar yang menetap di Madinah dan keimanan menancap kuat di hati mereka, maka mereka dilarang banyak bertanya.
Dalam Shahh Muslim disebutkan hadits dari an-Nawws bin Samn Radhiyallahu anhu, ia berkata, Aku tinggal bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di Madinah selama setahun, dan tidak ada yang menghalangiku untuk hijrah, melainkan bertanya. Karena, jika salah seorang dari kami berhijrah, maka tidak akan bisa bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.[9]

Dalam Shahh Muslim juga disebutkan hadits dari Anas bin Mlik Radhiyallahu anhu, ia berkata, Kami dilarang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang sesuatu. Yang membuat kami senang ialah seseorang yang berakal dari penduduk lembah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian ia bertanya kepada beliau sedang kami mendengarkannya.[10]

Ibnu Abbs Radhiyallahu anhuma berkata, Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih baik daripada sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka hanya bertanya tentang dua belas masalah dan kesemuanya ada di dalam Al-Qurn; Mereka bertanya kepadamu tentang minuman keras-al-Baqarah/2 ayat 219; Mereka bertanya kepadamu tentang bulan Haram al-Baqarah/2 ayat 217); Mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim al-Baqarah/2 ayat 220.[11]

Terkadang para sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang hukum sesuatu yang belum terjadi namun hal itu untuk diamalkan bila telah terjadi. Misalnya, mereka bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : Kami akan bertemu musuh besok pagi. Kami tidak mempunyai pisau, bolehkah kami menyembelih dengan kayu? Mereka juga bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang para penguasa yang beliau kabarkan sepeninggal beliau, tentang ketaatan kepada mereka, dan memerangi mereka. Dan Hudzaifah Radhiyallahu anhu bertanya kepada beliau Shallallahu alaihi wa sallam tentang fitnah-fitnah dan apa yang mesti ia kerjakan pada zaman tersebut.[13]

2. SEBAB-SEBAB KEBINASAAN UMAT TERDAHULU
Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :



(Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian karena banyaknya pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka ), menunjukkan tentang makruhnya dan tercelanya banyak bertanya. Namun sebagian orang menduga bahwa itu khusus untuk zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam karena dikhawatirkan terjadinya pengharaman sesuatu yang belum diharamkan, atau kewajiban sesuatu yang sulit dikerjakan, sedangkan itu semua tidak terjadi sepeninggal Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Sebab makruhnya banyak bertanya bukan karena sebab di atas, namun ada sebab lain, yaitu yang diisyaratkan Ibnu Abbs Radhiyallahu anhuma dalam perkataannya yang telah disebutkan sebelumnya, Namun tunggulah. Jika Al-Qurn telah turun, maka tidaklah menanyakan suatu apa pun, melainkan kalian mendapatkan penjelasannya.

Maksudnya bahwa semua yang dibutuhkan kaum Muslimin dalam agama mereka itu mesti akan dijelaskan Allah dalam kitab-Nya dan disampaikan Rasul-Nya dari-Nya. Setelah itu, siapa pun tidak perlu bertanya lagi karena Allah Taala lebih tahu tentang kemashlahatan hamba-hamba-Nya daripada mereka. Jadi, apa saja yang di dalamnya terdapat petunjuk dan manfaat bagi kaum Muslimin, Allah Taala pasti menjelaskannya kepada mereka tanpa didahului pertanyaan, seperti difirmankan Allah Taala, Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian agar kalian tidak sesat an-Nis`/4 ayat 176-, maka pada saat itu tidak butuh lagi bertanya tentang sesuatu, apalagi sesuatu yang belum terjadi dan tidak ada kebutuhan padanya. Justru kebutuhan yang penting ialah memahami apa yang telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya menurut pemahaman para sahabat lalu mengikutinya, dan mengamalkannya.

Pada hadits di atas, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa sibuk mengerjakan perintah dan menjauhi larangan beliau itu membuat orang tidak bertanya. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan sesuatu pada kalian, kerjakanlah semampu kalian. Yang harus diperhatikan seorang muslim ialah membahas apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dilanjutkan berusaha keras memahaminya, memikirkan makna-maknanya, lalu membenarkannya jika hal tersebut termasuk hal-hal yang bersifat ilmiah. Jika hal tersebut termasuk hal-hal yang bersifat amaliyah, ia mencurahkan segenap tenaga untuk bersungguh-sungguh mengerjakan perintah-perintah yang mampu ia kerjakan dan menjauhi apa saja yang dilarang. Jadi, semua perhatiannya terfokus pada hal tersebut dan tidak kepada sesuatu yang lain. Seperti itulah keadaan para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam mencari ilmu yang bermanfaat dari Al-Qur`n dan As-Sunnah.[14]

Namun jika perhatian pendengar ketika mendengar perintah dan larangan diarahkan kepada perkiraan teoritis dari perkara-perkara yang bisa terjadi atau tidak, maka itu termasuk hal yang dilarang dan membuat orang tidak serius mengikuti perintah. Seseorang bertanya kepada Ibnu Umar Radhiyallahu anhumatentang mengusap Hajar Aswad. Ibnu Umar Radhiyallahu anhumaberkata kepada orang tersebut, Aku melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengusap Hajar Aswad dan menciumnya. Orang tersebut berkata, Bagaimana pendapatmu kalau aku tidak bisa melakukannya? Bagaimana pendapatmu kalau aku didesak?

Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma berkata kepada orang tersebut: Letakkan kata-kata bagaimana pendapatmu di Yaman. Aku melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengusap Hajar Aswad dan menciumnya.[15]

Maksud perkataan Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ialah hendaklah engkau hanya mempunyai semangat untuk mengikuti Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan tidak usah memperkirakan tidak akan mampu melakukannya atau mempersulitnya sebelum terjadi karena hal tersebut melemahkan semangat untuk mengikuti beliau. Sebab, mempelajari agama dan bertanya tentang ilmu itu akan dipuji jika untuk diamalkan, dan bukannya untuk perdebatan.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thlib Radhiyallahu anhu bahwasanya beliau menyebutkan sejumlah fitnah yang akan terjadi di akhir zaman, kemudian Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata kepadanya, Kapan itu terjadi, wahai Ali?

Ali bin Abi Thlib menjawab:

.

Fitnah-fitnah tersebut terjadi jika fiqih diperdalam bukan karena agama, ilmu agama dipelajari bukan untuk diamalkan, serta kehidupan dunia dicari bukan untuk kepentingan akhirat.[16]

Ibnu Masud Radhiyallahu anhu berkata, Bagaimana dengan kalian jika fitnah terjadi pada kalian di mana padanya anak kecil menjadi dewasa, orang dewasa menjadi tua, fitnah tersebut dijadikan sebagai sunnah, dan jika fitnah tersebut dirubah pada suatu hari maka dikatakan, Ini (merubah fitnah) adalah kemungkaran.

Orang-orang bertanya, Kapan fitnah tersebut terjadi? Ibnu Masud menjawab:

.

Fitnah tersebut terjadi ketika orang-orang jujur dari kalian sangat sedikit, para pemimpin kalian banyak, fuqaha kalian sedikit, para qari` (pembaca Al-Qur`n) kalian banyak, fiqih dikaji bukan karena agama, dan dunia dicari dengan amalan akhirat.[17]

Karena itulah, banyak para sahabat dan tabiin tidak suka menanyakan peristiwa-peristiwa yang belum terjadi dan tidak menjawabnya jika ditanya seperti itu.

Ibnu Umar Radhiyallahu anhumaberkata, Kalian jangan bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, karena aku mendengar Umar bin al-Kaththab melaknat orang yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.[18]

Jika Zaid bin Tsbit Radhiyallahu anhu ditanya tentang sesuatu, ia berkata, Sudahkah ini terjadi? Orang-orang berkata, Belum. Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu berkata, Biarkan hal tersebut hingga terjadi.[19]

Masruq rahimahullah berkata, Aku bertanya sesuatu kepada Ubay bin Kaab Radhiyallahu anhu, kemudian ia berkata, Apakah sebelumnya hal tersebut sudah terjadi? Aku menjawab, Belum. Ubay bin Kaab berkata, Biarkan kami hingga hal tersebut terjadi. Jika hal tersebut benar-benar terjadi, kami akan berijtihad mengeluarkan pendapat kami untukmu.[20]

Ibnu Wahb rahimahullah juga berkata, dari Imam Malik, Aku dengar Malik mengecam sikap banyak bicara dan fatwa.

Al-Haitsam bin Jaml t berkata: Aku berkata kepada Imam Mlik rahimahullah , Wahai Abu Abdillah, seorang yang mengetahui hadits apakah ia berdebat tentang hadits kepada orang lain? Imm Malik menjawab, Tidak, ia hanya menyampaikan as-Sunnah, semoga diterima, jika tidak diterima, maka ia diam.

Imam Mlik rahimahullah berkata, Perdebatan tentang ilmu itu membuat hati keras dan menimbulkan kedengkian.[21]

Dalam hal ini, manusia terbagi menjadi beberapa kelompok berikut.
Di antara pengikut ulama hadits ada orang yang menutup pintu pertanyaan sehingga fiqhnya sedikit dan ilmunya terbatas pada apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya saja. Karenanya, ia menjadi pengemban fiqh namun tidak faqih.

Di antara fuqaha ahli ra`yu, ada orang yang membuka lebar-lebar kemunculan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjadi. Terkadang pertanyaan-pertanyaan tersebut terjadi dan terkadang tidak. Kemudian mereka sibuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan terlibat perdebatan di dalamnya sehingga hal tersebut melahirkan kekerasan hati, hawa nafsu, kebencian, permusuhan, dan kemarahan. Pada umumnya, hal tersebut disertai dengan niat mengalahkan lawan, mencari popularitas, dan mengambil simpati manusia. Ini jelas sesuatu yang dicela para ulama yang Rabbani, dan Sunnah menunjukkan tentang keburukan dan keharamannya.

Adapun para fuqaha ahli hadits sekaligus mengamalkannya, sebagian besar semangat mereka ialah mencari makna-makna Kitabullah dan apa saja yang menjelaskannya, misalnya hadits-hadits shahh dan perkataan para sahabat serta tabiin. Mereka juga mencari makna-makna Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , mengenali mana yang shahh dan dhaif darinya, kemudian mempelajarinya, memahaminya, mengkaji makna-maknanya, mengenali perkataan para sahabat dan tabiin di berbagai disiplin ilmu, dalam hal tafsir, hadits, masalah halal dan haram, prinsip-prinsip Sunnah, zuhud, dan lain-lain. Itulah metode-metode Imam Ahmad dan yang sejalan dengannya dari para ulama hadits yang Rabbani. Sibuk dengan aktifitas seperti itu membuat orang tidak lagi sibuk dengan sesuatu yang dipikirkan akal yang tidak ada gunanya dan belum tentu terjadi, namun justru perdebatan di dalamnya menimbulkan permusuhan dan ucapan yang tidak jelas sumbernya. Jika Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang salah satu dari masalah-masalah baru yang tidak akan terjadi, ia berkata: Tinggalkan aku dari masalah-masalah baru yang diada-adakan seperti ini.

Sungguh indah apa yang dikatakan Yunus bin Sulaiman as-Saqathi rahimahullah : Aku melihat salah satu masalah, ternyata masalah tersebut adalah hadits dan ra`yu. Dalam hadits-hadits tersebut, aku temukan penyebutan Allah k , kerububiyyahan-Nya, keagungan-Nya, Arasy, sifat Surga, sifat Neraka, para nabi dan rasul, halal dan haram, anjuran untuk silaturahmi, dan kumpulan sejumlah kebaikan. Kemudian pada ra`yu aku temukan makar, pengkhianatan, tipu muslihat, pemutusan silaturahmi, dan kumpulan sejumlah keburukan.[22]

Ahmad bin Sibawaih rahimahullah berkata, Barang siapa ingin mengetahui seluk-beluk ilmu kubur, ia harus membaca atsar-atsar. Barang siapa ingin mengetahui seluk-beluk ilmu roti, ia harus menggunakan akal.[23]

Kesimpulannya, hendaklah seorang muslim tujuan (hidupnya) untuk mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengetahui apa yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya, meniti jalan beliau, mengamalkan apa yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya, dan mengajak manusia kepadanya. Barang siapa berbuat seperti itu, Allah memberi bimbingan dan petunjuk kepadanya, mengilhamkan petunjuk kepadanya, mengajarinya apa yang belum ia ketahui, dan ia termasuk ulama yang dipuji dalam Kitabullah:



Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah para ulama [Fthir/35:28].

Nafi` bin Yazid rahimahullah berkata, Ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya ialah orang-orang yang tawadhu` kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya dalam keridhaan-Nya, tidak menjilat kepada orang-orang di atas mereka, dan tidak menghina orang-orang di bawah mereka.[24]

Perkataan di atas didukung sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :

: .

Penduduk Yaman telah tiba di tempat kalian. Mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya. Iman adalah Yaman, fiqh adalah Yaman, dan hikmah adalah Yaman.[25]

Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tersebut adalah isyarat beliau kepada Abu Musa al-Asyari dan orang-orang dari ulama penduduk Yaman yang sejalan dengannya. Sabda tersebut juga isyarat kepada Abu Muslim al-Khaulani, Uwais al-Qarni, Thawus, Wahb bin Munabbih, dan ulama-ulama Yaman lainnya. Mereka semua termasuk ulama Rabbani yang takut kepada Allah. Sebagian dari mereka lebih luas ilmunya tentang hukum-hukum Allah dan syariat-syariat agama-Nya daripada sebagian yang lain. Kelebihan mereka atas orang lain sama sekali bukan karena banyak perkataan yang tidak jelas tujuannya, pembahasan, dan perdebatan.

Seperti itu pula, Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu yang merupakan orang paling ahli tentang halal dan haram, serta dikumpulkan pada hari Kiamat di depan para ulama dalam jarak sejauh lemparan anak panah. Ilmunya luas bukan karena memperluas dan memperbanyak pertanyaan, namun karena ia tidak suka membicarakan sesuatu yang tidak terjadi, akan tetapi karena ia adalah orang yang mengetahui (mengenal) Allah dan prinsip-prinsip agama-Nya. Ditanyakan kepada Imam Ahmad: Siapakah orang yang bisa kami tanya sepeninggalmu? Imam Ahmad menjawab, Abdul-Wahhab al-Warraq. Ditanyakan lagi kepada Imam Ahmad, Ilmu Abdul Wahhab al-Warraq itu tidak banyak, Imam Ahmad berkata, Orang shalih seperti dia itu akan diberi petunjuk untuk mendapatkan kebenaran.[26]
Dikirim oleh: Fadliansyah | Kunjungi Website
Terdapat pada: Lain-lain, perintah dan larangan islam